Batam , Nursalim sebagai pemateri pada Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang berlangsung pada hari Selasa, 13 Juli 2022, tepatnya pukul 13.00, yang dihadiri oleh Harmen, S.Kom, Kepala sekolah SMAN 28 Batam beserta para guru guru dan tata usaha, AKP Betty Nivia, Kapolsek Sei Beduk Maryanto, S.Pd.,M.Pd Anggota Dewan Pendidikan Kota Batam, serta para peserta MPLS.
Di depan ratusan peserta MPLS korwil tinta hukum Provinsi Kepulauan Riau menyampaikan arti pentingnya literasi membaca. Karena dengan banyak membaca literasi maka ilmu itu akan seperti ilmunya padi, semakin berisi semakin merunduk.
Literasi adalah istilah umum yang merujuk kepada seperangkat kemampuan dan keterampilan individu dalam membaca, menulis, berbicara, berhitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari hari. Sehingga literasi tidak bisa dilepaskan dari kemampuan berbahasa.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa berbicara tentang literasi maka ada enam macam literasi yang harus di ingat 1. Literasi baca tulis, 2. Literasi Numetasi, 3. Literasi sains, 4. Literasi digital, 5. Literasi finansial, 6. Literasi budaya dan kewargaan.
Literasi dasar ini dapat membantu pada kehidupan sehari-hari, dan tentunya dapat menjadi bekal Dasar menjadi generasi unggul di masa depan.
Kemampuan literasi pada awalnya diartikan sebagai keterampilan membaca dan menulis, tetapi pada saat ini pengertiannya mengalami perkembangan. Dalam ranah pembelajaran, kemampuan literasi merupakan kemampuan penting yang harus dimiliki oleh setiap siswa untuk menguasai berbagai mata pelajaran.
Sejalan dengan penjelasan dalam Merdeka Belajar tahun 2022 bahwa bahasa adalah penghela ilmu pengetahuan maka bahasa Indonesia merupakan sarana penyampai ilmu pengetahuan. Dengan kata lain, keterampilan berbahasa anak terutama membaca dan menulis yang diperoleh melalui pelajaran bahasa Indonesia, sangat menentukan keberhasilan mereka dalam menguasai berbagai mata pelajaran lain.
Tingkat literasi masyarakat suatu bangsa memiliki hubungan yang vertikal terhadap kualitas bangsa. Tingginya minat membaca buku seseorang berpengaruh terhadap wawasan, mental, dan prilaku seseorang. Bangsa Indonesia adalah bangsa dengan tingkat literasi yang masih rendah padahal sudah 70 tahun sejak Indonesia menjadi negara merdeka.
Ada banyak faktor kenapa literasi masyarakat Indonesia memilki persentase yang rendah. Permasalahan ini harus segera mendapatkan perhatian serius dari pemerintah. Bagaimana wacana mengenai ‘melek bacaan’ menjadi perhatian serius dalam semua kalangan masyarakat. Ketika keadaan melek bacaan menjadi sebuah budaya di Indonesia maka bukanlah mustahil untuk menjadi bangsa yang tidak hanya berhasil berkembang tetapi juga sebagai bangsa yang maju.
Setelah mempelajari literasi membaca ini ini, maka siswa SMA Negeri 28 diharapkan mampu menjelaskan dan menerapkan literasi informasi pada pemustaka. Kemudian, mahasiswa juga diharapkan mampu: 1. memahami dan menjelaskan konsep literasi informasi serta hubungan literasi informasi dengan perpustakaan; 2. memahami dan menjelaskan pembinaan minat dan budaya membaca, literasi informasi dalam pendidikan, pengajaran, dan pembelajaran sepanjang hayat; 3. memahami dan menjelaskan tersedianya informasi serta kemudahan akses informasi dan literasi informasi dalam pendidikan pemakai; 4. memahami dan menjelaskan tingkat kebutuhan literasi informasi, kemampuan berpikir, dan keterampilan berkomunikasi; 5. memahami dan menjelaskan media informasi dan sistem temu kembali informasi; 6. memahami dan menjelaskan pengaruh teknologi terhadap literasi informasi; 7. memahami dan menjelaskan informasi dan cara pemakaiannya; 8. memahami dan menjelaskan cara belajar secara individu; 9. memahami dan menjelaskan cara belajar berkelompok.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa pengertian literasi dalam pendidikan, jika dilihat berdasarkan kebutuhan para peserta didik di sekolah maka, makna literasi berkembang meliputi proses, membaca, menulis, dan arithmetic memungkinkan untuk dimanfaatkan bagi dirinya sendiri dan perkembangan masyrakat. Literasi menurut Kemendikbud (2016:2) adalah kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan suatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas, antara lain membaca, melihat, menyimak, dan berbicara. Romdhoni (2013:90) menyatakan bahwa literasi merupakan peristiwa sosial yang melibatkan keterampila-keterampila tertentu, yang diperlukan untuk menyampaikan dan mendapatkan informasi dalam bentuk tulisan.
Pengertian literasi dalam pendidikan, jika dilihat berdasarkan kebutuhan para peserta didik di sekolah maka, makna literasi berkembang meliputi proses membaca, menulis, berbicara, mendengar, membayangkan dan melihat. Burns, dkk dalam Farida Rahim (2011:01).” Mengatakan bahwa kemampuan membaca merupakan suatu yang vital dalam suatu proses masyarakat yang terpelajar. Namun, anak-anak yang tidak paham akan pentingnya belajar membaca tidak akan termotivasi untuk belajar.” Pembaca harus secara aktif melibatkan pengalaman sebelumnya 9 proses berpikir, sikap, emosi dan minat untuk memahami bacaan yang mereka baca. Berdasarkan pengertian literasi di atas yang telah dijabarkan dapat diketahui bahwa literasi merupakan kemampuan yang kompleks.
Bukan hanya kemampuan akan membaca dan menulis. Melainkan kemampuan untuk mengambil dan memaknai dari berbagai macam jenis-jenis teks yang berlaku atau digunakan dalam komunitas wacana misalnya, teks yang berlaku atau digunakan dalam komunitas wacana misalnya, teks naratif, eksposisi, deskripsi dan lain-lain. Makna literasi semakin berkembang dari waktu ke waktu, perkembangan makna tersebut mengikuti perkembangan zaman yang terus berubah setiap waktu.
Jenis-Jenis Literasi Menurut Ibnu Adji Setyawan (2018:1) isilah literasi sudah mulai digunakan dalam skala yang lebih luas tetapi tetap merujuk pada kemampuan dan kompetensi dasar literasi yang kemampuan membaca serta menulis. Macam Liteasi ada 9 antara lain: (1) Literasi kesehatan, (2) Literasi finansial, (3) Literasi digital, (4) Literasi data, (5) Literasi kritikal, (6) Literasi visual, (7) Literasi teknologi, (8) Literasi statistik, (9) Literasi informasi. Sedangkan menurut Clay (2001:10-14) menjabarkan bahwa literasi terdiri dari : (1) Literasi dini, (2) Literasi dasar, (3) Literasi perpustakaan, (4) Literasi media, (4) Literasi teknologi, (5) Literasi visual. Adapun menurut Waskim (2017:1) dijelaskan bahwa jenis-jenis literasi meliputi : (1) Literasi dasar (Basic Literacy), (2) Literasi perpustakaan (Library Literacy), (3) Literasi Media (Media Literacy), (4) Literasi teknologi (Technology Literacy). 10 Sesuai dengan uraian di atas kiranya dapat disimpulkan bahwa jenis jenis literasi sekolah pada dasarnya mencakup aspek aspek perkembangan baik terkait dengan teknologi, informasi, elektronik, kesehatan, literatus akademik dan lain sebagainya.
Semuanya pada pusat tentang bagaimana mengembangankan potensi individu untuk lebih tertarik dalam proses pembiasaan, pengembangan, dan pembelajaran. 2. Gerakan Literasi a. Pengertian Gerakan Literasi Sekolah (GLS) Gerakan Literasi Sekolah merupakan suatu gerakan yang dicanangkan oleh pemerintah dengan beberapa landasan sebagai berikut: keterampilan membaca siswa, Indonesia menduduki peringkat bawah, tuntutan keterampilan membaca pada abad 21 ialah kemampuan memahami informasi secara analitis, kritis, dan reflektif. Alasan yang ketiga pembelajran di sekolah belum mampu mengajarkan kompetensi abad 21.
Terakhir yaitu kegiatan membaca di sekolah perlu dikuatkan dengan pembiasan membaca di keluarga dan masyarakat. Gerakan Literasi Sekolah menurut Sutriantno, dkk (2016:2) merupakan sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh yang dilakukan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang warganya literar sepanjang hayat melalui pelibatan publik. Pengertian tersebur menunjukan, bahwa pembiasaan literasi di sekolah.
Gerakan Literasi Sekolah merupakan suatu usaha atau kegiatan yang bersifat partisipatif dengan melibatkan warga sekolah (siswa, guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan, pengawas sekolah, komite sekolah, orang tua/wali murid), akademisi, penerbit, media massa, masyarakat (tokoh masyarakat yang dapat merepresentasikan keteladanan, dunia usaha, dan lainnya), dan pemangku 11 kepentingan di bawah koordinasi direktorat jenderal pendidikan dasar dan menengah kementrian pendidikan dan kebudayaan (Kemendikbud 2016:5). Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa Gerakan Literasi Sekolah (GLS) merupakan upaya yang dilakukan sekolah untuk menjadikan organisasi pembelajaran yang seluruh perangkat sekolah yang berbudaya literat yang melalui terlibatnya publik dengan membaca selama 15 menit sebelum pembelajaran dimulai membaca buku nonpembelajaran. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan minat baca peserta didik. b. Tujuan Gerakan Literasi Sekolah Sekolah dengan budaya literasi yang tinggi, siswa akan cenderung lebih berpotensi berhasil dan guru akan lebih bersemangat mengajar. Program membaca seperti membaca dalam hati dan membaca nyaring hanyalah bagian dari kerangka besar untuk membangun budaya literasi sekolah. Wierdarti, dkk (2016:6) terdiri dari dua yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umumnya yaitu menumbuh dan mengembangkan budi pekerti siswa melalui pembudayaan ekosistem literasi sekolah agar menjadi pembelajaran yang terus menurus. Sedangkan untuk tujuan khusus terdapat empat yaitu: 1. Menumbuhkan budaya literasi membaca dan menulis siswa di sekolah 2. Meningkatkan kapasitas warga dan lingkungan sekolah literal 3. Menjadikan sekolah sebagai taman belajar yang menyenangkan dan ramah anak, agar warga sekolah sebagai taman belajar yang menyenangkan dan ramaha anak, agar warga sekolah mampu mengelola baik tentang pengetahuan. 4. Menjaga keberlanjutan pembelajaran dengan menghadirkan beragam buku bacaan dan mewadahi berbagai strategi membaca.
Dapat disimpulkan dari tujuan khusus dan umum mengenai GLS ialah menciptakan lingkungan sekolah menjadi lingkungan pembelajaran sepanjang hayat dengan membudayakan aktivitas membaca dan menulis. 12 c. Manfaat Gerakan Literasi Menurut Defi (2018:1) manfaat gerakan Literasi yaitu : (1) Menambah kosa kata siswa, (2) Mengoptimalkan kerja otak. (3) Menambah wawasan dan informasi baru, (4) Meningkatakan kemampuan interpersonal, (5) Mempertajam diri dalam menangkap makna dari suatu informasi yang sedang dibaca, (6) Mengembangkan kemampuam verbal, (7) Melatih kemampuan berfikir dan menganalisa, (8) Meningkatkan fokus dan kosentrasi, (9) Melatih menulis dan merangkai kata yang bermakna. 3. Membaca a. Pengertian Membaca Membaca merupakan aktivitas yang dilakukan oleh banyak orang.
Membaca merupakan salah satu yang penting dalam kehidupan manusia. Semua kegiatan manusia didasari dari kegiatan membaca. Menurut Tarigan (2015:7) mengemukakan bahwa membaca merupakan suatu proses yang dilakukan oleh pembaca untuk memperoleh pesan., yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata. Membaca menurut Rahman & Haryanto (2014:129) mengemukakan bahwa proses pemecahan sendi terhadap simbol yang tertulis, karena diawali dengan huruf, suku kata dan kata dalam teks yang dibangun. Dalam pengertian tersebut mengandung makna jika seseorang bisa membaca huruf, suku kata dan dan kata maka orang tersebut dapat merangkai kata-kata dalam sebuah kalimat. Uraian di atas dapat disimpulkan membaca merupakan suatu proses kgiatan yang dilakukan sesorang secara lisan. Membaca dapat memudahkan manusia untuk 13 dapat memamahi bacaan yang telah dibacanya. Dengan membaca sesorang dapat menambah wawasan dan pengetahuan. Demikian berita ini dibuat semoga bermanfaat untuk pengembangan referensi membaca di SMA Negeri 28 Batam. (NT)
