Bangga Aku Jadi Seorang Guru, Siswa Adalah Mutiara Yang Tak Terhingga Nilainya
Batam, Tinta Hukum | Dia adalah Rina. A.R. Siahaan, SE, “Menurutnya Jika pengalaman adalah salah satu guru terbaik, maka menjadi seorang guru adalah salah satu pengalaman terbaik.
Bu Rina panggilan akrab dari Rina. A.R. Siahaan, SE, dia adalah seorang guru mata pelajaran Ekonomi pindahan dari SMA Negeri 1 Bunguran Timur Laut. Dia mengajar di SMA Negeri 1 Bunguran Timur Laut kabupaten Natuna lebih dari 12 tahun, dan sebelum terangkat menjadi PNS kami mengajar di Medan tepatnya di SMA Negeri 1 Palilingi di Medan. Di Medan saya mengajar ekonomi, Bahasa Inggeris, sosiologi, antropologi dan lokomotif dan mengajar kurang lebih 9 tahun.
Dia menceritakan pengalaman awalnya ketika menjadi guru, dia tinggalkan keluarga besarnya dan tinggal di mess sekolah dengan jarak 5 jam perjalanan dari kota ke sekolah dengan raut muka yang ceria kepada awak media ini. Baginya taka da perbedaan cara mendapatkan ilmu antara anak kota dan anak desa, yang membedakan adalah system informasi dan komuniklasi saja. Anak kota mudah mendapatkan informasi dan mudah berkomunikasi sementata anak desa itu sangat susah mendapatkan informasi dan teknologi.
Guru yang anak ke 8 dengan 9 bersaudara ini suatu ketika ada yang bertanya, “motivasi apa yang bisa menjadi landasan bagi para guru, agar selalu mempunyai semangat untuk mengajar?” Jawaban dari seseorang yang ditanya, memberikan jawaban berupa pertanyaan kembali, namun yang tidak membutuhkan jawaban.
“Ketika bertahun-tahun lamanya telah berlalu dan ada murid yang selalu ingat, akan apa yang telah gurunya lakukan dan ajarkan untuk kebaikan, lalu motivasi apa lagi yang dibutuhkan oleh seorang guru?”
Dahulu, sebelum banyak turun melakukan audit sistem manajemen ke sekolah, rasanya masih belum menyadari akan besarnya pengorbanan seorang guru. Dahulu, sebelum seringnya berinteraksi dengan para guru saat turun untuk berbagi inspirasi, penghormatan kepada mereka belum banyak diberi.
Guru, tepatlah jika dikatakan kalau dirimu adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Guru sangat jauh berbeda dengan profesi seorang karyawan. Karyawan pulang tanpa membawa banyak tumpukan pekerjaan. Sementara guru, seringkali membawa tanggungan pekerjaan sebagai hasil dari suatu pembelajaran di sekolah.
Seorang guru menjadi orang tua kedua. Perencana kegiatan belajar, seseorang yang dituntut pandai berkomunikasi, berpikir jauh ke depan, mengorganisasi sebuah kelas, ataupun sosok yang bisa mengayomi. Seseorang yang menjadikan segala sesuatu yang menjadi urusan siswanya berjalan dengan lancar. Sosok yang bisa memberi kebahagiaan bagi muridnya, serta menyebarkan kegembiraan dalam proses pembelajaran.
Guru, kerap kali menjadi panutan dalam banyak hal.
Guru kehidupan saya pernah berujar, “maknailah dengan baik, arti dari sebuah kata terima kasih. Apa yang sudah kita terima, kita kasih-kasihkan kembali.” Seberapa banyak ilmu yang sudah didapatkan, dari para guru formal yang kita temui di sekolah?
Lalu seberapa banyak pula ilmu-ilmu kehidupan yang telah didapatkan? Didapat untuk menambah khasanah kehidupan, saat berinteraksi atau berjumpa dengan seseorang. Jumlah mereka, akan bisa jauh lebih banyak dari yang ditemui di sekolah. Jika Tuhan tidak pernah hitung-hitungan dalam memberikan tambahan pengetahuan pada kita, lalu apa yang sudah kita berikan pada sesama?
Mengapa terkadang, kita begitu menahan untuk hanya berbagi ilmu pada mereka yang membutuhkan uluran tangan. Sedikit berbagi pengalaman untuk mengangkat kecerdasan. Menumbuhkan kebahagiaan dan memunculkan keceriaan pada mereka yang membutuhkan pengetahuan.
Sobat, mari turun tangan untuk turut mengambil peranan. Meneruskan kebaikan yang pernah diajarkan. Berbagi atas apa yang telah kita terima. Selain itu, mari kita gerakkan kegiatan untuk merajut silaturahim pada mereka yang telah berjasa. Impian masa kecil kita telah diuntai dengan sangat baik oleh para guru yang banyak membantu.
Mari bersama, kita datangi guru-guru kita yang masih ada. Guru semenjak kita masih duduk di bangku sekolah dasar, hingga guru yang telah banyak berjasa sampai hari ini.
Bagiku menjadi seorang guru adalah suatu profesi yang paling aku banggakan, dan menghadapi siswa adalah Mutiara yang takkan pernah lekang oleh zaman tuturnya dengan senyum khas seorang pendidik, demikian bu Rina mengakhiri obrolannya (NT)
